Melaka dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage). Karena memang begitu banyak bangunan peninggalan perang jaman kolonial. Traveling kali ini untuk mengexplore peninggalan sejarah itu.

Day-2 Wisata Sejarah Pemerintahan Melaka

Pagi ini saya bangun begitu bersemangat.
Yup, karena petualangan saya akan dimulai hari ini di Negeri Melaka. Tak lupa saya sarapan dulu sebelum berwisata *biar bisa nrima kenyataaan hahaha…. Sarapan di NOMAPS Flashpacker Hostel ini tidak terbatas, jadi saya bisa makan sepuasnya *rakus haha… Cukup roti bakar + milo hangat untuk energi saat explore. Dan tak lupa menu penghantar yaitu membaca map, minimal membuat rute wisata secara garis besar.

Sarapan di Hostel dengan menu roti, milo dan peta

Sungguh suasana yang sangat berbeda saat jalan kaki dipagi hari. Melihat bangunan sepanjang jalan benar-benar kuno, seakan-akan saya dibawa ke masa lalu. Tidak salah kalau dinobatkan sebagai Kota Warisan Dunia.

Saya menyusuri jalan yang semalam saya lewati, tapi kali ini dengan tujuan ke Museum. Karena berdasarkan peta wisata dan bekal informasi, dari museum ini saya akan tembus ke beberapa tempat sejarah yang lain.

Melaka River di pagi hari (diambil dari jembatan)

Museum Melaka (Perbadanan Muzeum Melaka)

Tiket masuk museum

Tempat ini satu area dengan yang disebut Stadthuys, pintu masuknya pun juga dari Cityhall.
Saya membeli tiket dengan harga RM5 yang seharusnya untuk wisatawan asing adalah sebesar RM15. Mungkin karena wajah saya tidak jauh beda dengan orang melayu dianggap orang malaysia. Sebenarnya ini trick juga sih, waktu traveling ke thailand juga seperti itu. Jadi saat kalian beli tiket jangan berbicara sedikitpun cukup sodorkan pecahan uang yang lebih besar dari harga tiket untuk wisatawan asing. Biarkan petugas tiket yang menentukan *hahahah sudah 2x berhasil.

Lanjut ke masuk Mesum.
Sebenarnya sama saja dengan museum-museum yang kita kenal, merupakan tempat menyimpan benda bersejarah. Di awal kita akan dibawah dengan sebuah nuansa benda keramik ataupun gerabah yang digunakan saat itu.

Museum Melaka Lt.1

Lanjut ke bagian berikutnya masuk dalam area senjata yang digunakan saat perang, lengkap dengan kepemimpinan pada waktu itu. Sampai dengan lantai dua, suasana berubah pada sebuah alat transportasi yang digunakan oleh para pemimpin pada waktu itu. Pada bagian dinding dilukis dan ditulis sebuah perjalanan perkembangan melaka dari waktu ke waktu.

Museum Melaka Lt.2

Hingga berakhir pada sebuah pintu yang mengarah keluar dengan pelataran taman. Pintu ini sekaligus sebuah jalan yang mengarah sebuah gereja yang terletak diatas bukit.

Gereja St. Paul

Mengacu pada sumber informasi wikipedia. Gereja St. Paul merupakan sebuah gereja yang terletaknya di Bandar Hilir, Melaka. Ia dibina oleh Kapten Portugis yang bernama Duarte Coelho pada tahun 1521 dan dinamakan “Our Lady of The Hill”.

Gereja ini kemudiannya ditukar oleh pihak Belanda kepada tempat persemadian bangsawan dan di namakan gereja St. Paul. St. Francis Xavier telah dipelihara di dalam perkuburan terbuka pada tahun 1553 sebelum dibawa dengan kapal ke Goa, India.

Gereja St. Paul

Dari atas sini kita bisa melihat pemandangan Selat dan kota Malaka disekitar. Dan pada ujung gereja ini terdapat tangga turun yang lumayan banyak yang menuju ke bekas reruntuhan benteng.

Benteng Porta De Santiago

Sebuah benteng yang didirikan oleh Portugal di masa lampau pada tahun 1511 oleh Alfonso de Albuquerque.
Porta De Santiago ini berada di atas bukit. Untuk mencapai Porta De Santiago ini saya harus menurunin anak tangga.

Benteng Porta De Santiago

Setelah keluar dari bekas reruntuhan ini, terdapat sebuah halaman yang lumayan luas. Halaman jalan ini bukan di aspal tetapi menggunakan paving, terlihat indah dan rapi. Ternyata diarea ini merupakan halaman yang mencakup beberapa bangunan museum, antara lain :

Museum Istana Kesultanan Melaka Melayu

Terletak di area yang luas samping kiri, saat keluar dari benteng

Museum Istana Kesultanan Melayu

Proclamation Of Independence Memorial

Proclamation Of Independence Memorial

The Pirates Adventures

Terletak dibagian kanan saat keluar benteng. Merupakan tempat hiburan yang berkonsep kapal bajak laut. Di dalam area ini terdapat semacam mainan air dan panggung. Ntah pada hari apa panggung ini digunakan, yang jelas saat saya kesini tidak ada hiburan dibagian dalam.

The Pirates Adventures

Karena saya anggap tidak tertarik, maka lanjut jalan mengikuti jalanan berpaving. Sepanjang jalan ini banyak sekali pedagang asongan dan juga orang yang menyewakan becak hias, semacam odong-odong kalau di Indonesia.

Kali ini saya melewati sebuah beberapa bangunan museum disebelah kanan.

Museum Islam Melaka

Merupakan tempat untuk tujuan pusat pengumpulan data, meneliti dan menunjukkan sejarah perkembangan Islam. Interior museum terinspirasi dari kejayaan Islam selama periode Kesultanan Melaka dan desain diresapi dengan motif Islam kawasan Asia. Museum ini menunjukkan campuran seni Islam tradisional dengan keahlian lokal dan internasional.

Museum Islam Melaka

Museum Perangko Melaka

Bangunan museum ini awalnya digunakan sebagai tempat tinggal untuk Belanda pejabat yang tinggal di Malaka sampai akhir Perang Dunia II setelah bangunan itu ditinggalkan. Pada tahun 2004, bangunan itu dikembalikan oleh Departemen Museum dan Antiquity dan diserahkan kepada Pemerintah Negara Malaka. Pada tahun 2007, pemerintah negara bagian, bekerja sama dengan Pos Malaysia , memutuskan untuk mendirikan Museum Perangko Malaka di gedung ini.

Museum Selat Melaka

Dan pada bagian depan bangunan ini atau sebalah kiri saya merupakan pertokoan. Karena gerah saya mencoba masuk, berharap ada AC. Ternyata ini adalah sebuah mall, dan pintu yang saya masukin adalah bagian belakang mall.

Dataran Pahlawan Megamall

Merupakan mall yang terbesar didaerah ini. Dan kalau saya lihat dari beberapa merk (brand) cukup lengkap dan terbilang besar, karena banyak juga merk-merk ternama. Lumayan lah ngadem sambil cuci mata, seharian mata ngeliatin barang antik mulu *hahahaha…

Dataran Pahlawan Megamall

Karena nggk ada niatan ng-mall dan kondisi sudah capek, saya lanjut keluar dan berjalan arah balik ke penginapan.
Sepanjang perjalanan ke penginapan, menemukan sesuatu yang unik seperti mobil mini menggunakan tenaga listrik dan yang cukup bikin tersenyum ada restaurant “Wong Solo”

Sepanjang jalan banda hilir

Setelah melewati Banda Hilir, saya masih menemui satu museum yang terletak ditepi jalan umum. Bagian sisi baliknya merupakan sungai melaka. Tempat ini sangat ramai, karena terhubung langsung dengan jalan tepi sungai dengan pemandangan view selat melaka.

Museum Samudera

Kalau di Surabaya ada Monumen Kapal Selam, maka di Melaka Malaysia bisa kita jumpai spot serupa yang dikenal dengan nama Museum Samudera atau Museum Maritim. Bedanya adalah, di Surabaya monumennya berupa Kapal Selam, sedangkan di Melaka berbentuk Kapal Layar. Keduanya berukuran raksasa seperti kapal aslinya, dan menyimpan berbagai kisah sejarah di dalamnya.

Museum Samudera ini merupakan replika dari kapal Flor de La Mar, sebuah kapal milik Portugal pada jaman Kesultanan Melayu Melaka dahulu kala, dengan ukuran panjang kapal 36 meter, lebar 8 meter dan tinggi 34 meter. Kapal ini dulunya tenggelam di selat Malaka saat akan berlabuh pulang ke negara asalnya di Portugis dengan membawa barang-barang bersejarah dari Kesultanan Melaka.

Museum Samudera – Quayside

Sampai di penginapan langsung tepar.
Dan memang saya punya rencana untuk jalan-jalan dimalam hari, tapi nanti akan saya rangkum dalam satu artikel tersendiri. Berharap akan menjadi beberapa referensi bagi kalian yang ingin menikmati malam hari di Melaka.

Cerita hari ini saya rasa cukup 🙂
Akan saya lanjutkan pada petualangan Day-3 Explore Melaka Malaysia – Sebagai Warisan Dunia