Bagi beberapa orang wisata sejarah dianggap kurang menarik. Tapi bagi saya justru dari wisata sejarah kita bisa belajar banyak tentang budaya maupun kearifan penduduk lokal. Terlebih Kota Ayutthaya yang merupakan warisan dunia (UNESCO).

Pagi ini bersemangat…
Yaa… walaupun masih capek seharian kemarin, ditambah tidur cuma beberapa jam. Jam 7 saya sudah bersiap untuk keliling taman bersejarah ini dengan bersepeda, walau ada pilihan motor dihotel. Tak lupa sarapan pagi yang termasuk dalam service. Sempat terlintas sepertinya akan meninggalkan makanan, karena rata-rata babi. Tapi ternyata salah besar, saat saya turun kebagian resepsionis justru dia memanggil dan berkata “kalau makanan khusus buat saya sudah siap. Apa begitu spesial kah saya ? hahahah…

Ternyata karena saya orang Indonesia yang pertama kali stay disitu dan dia berpikir kalau orang Indonesia rata-rata beragama muslim. Karena itu dia menyiapkan makanan halal khusus buat saya, TOP ini hotel!! Dari awal tidak ada niatan makan, jadinya makan deh *mayan buat trima kenyataan hahaha…

Menu sarapan & peta

Setelah nikmatin makan dan tinggal ngopi santai, saya didatangin lagi dan diberi sebuah peta. Peta ini berisi tempat-tempat bersejarah di Kota Ayutthaya, bahkan saya diberi rute secara hematnya.

Langsung gass…
Eh lupa pancal maksudnya. Taman bersejarah Ayutthaya ini sangatlah luas, banyak hal menarik untk dilihat, hampir sama seperti reruntuhan Candi Boko di Jogjakarta. Tetapi sebenarnya bukan reruntuhan ini yang menjadi pusat perhatian para wisatawan. Ini adalah beberapa tempat candi (wat) yang saya kunjungi :

Wat Maha That

Didirikan oleh Raja Ramesuan (1388-1395). Merupakan salah satu biara yang paling penting dari kerajaan Ayutthaya, bukan hanya merupakan peninggalan buddha tetapi juga karena berhubungan dengan Grand Palace. Disini dulunya merupakan tempat upacara penting “memberikan persembahan kepada dewa dan berdoa untuk kesejahteraan negara”.

Wat Maha That

Saat reruntuhan ini kembali dibersihkan untuk menjadi tempat wisata, di sebuah pohon di sudut reruntuhan, ditemukan patung batu kepala Buddha yang sudah terlilit dan menjadi satu dengan batang pohon. Batu kepala Buddha itu berada di batang pohon dan berada 30cm diatas tanah. Sementara tidak terlihat ada sisa badan dari patung tersebut, entah karena sudah hancur karena tidak ada tanda sisa potongan badan dari kepala Buddha yang menjadi satu di pohon tersebut ada di sekitar pohon itu.

Area Wat Maha That & Kepala Buddha

Fenomena kepala patung batu Buddha ini lah yang menjadi daya tarik utama di Wat Mahathat ini, teman-teman. Karena, meski terlilit akar yang benjadi badan pohon tersebut, bagian wajah patung Buddha berada pada posisi tegak dan menghadap keluar, dan seolah patung itu tersenyum. Uniknya lagi, teman-teman, warna batu sudah tidak tampak pada patung kepala tersebut. Warnanya sudah menjadi satu dengan warna batang pohon, sehingga terlihat seolah patung tersebut merupakan ukiran dari batang pohon, bukan dari potongan batu yang terlilit.

Wat Phra Ram

Dibangun pada tahun 1912 BE oleh Raja Ramesuan di lokasi kremasi untuk ayahnya, Raja Uthong. Karena ia memerintah awalnya hanya untuk satu tahun, diasumsikan konstruksi diselesaikan oleh penerus ini Raja Borom Rachathirat I, atau oleh Raja Ramesuan selama pemerintahan kedua. Candi ini telah dipulihkan beberapa kali pada abad berikutnya, pada masa pemerintahan Raja Borom Trailokanath, dan kemudian oleh Raja Borom Kot.

Wat Phra Ram

Wat Phra Si Sanphet

Berdiri dimungkinkan pada masa pemerintahan Raja Trailok.
Tidak ada biksu yang tinggal, dan candi itu digunakan untuk upacara kerajaan dan untuk menyimpan peninggalan kerajaan. Tiga candi itu diyakini menjaga abu dari tiga raja yaitu: Raja Trailok, Raja Borom Ratchathirat III, dan Raja Rama Thibodi II, serta peninggalan Buddha.

Tiga Candi Wat Phra Si Sanphet

Narsis dulu di Monumen UNESCO masa candi mulu yang di foto

Sebenarnya masih banyak candi-candi yang bersejarah. Tapi karena siang ini saya harus ke Bangkok, maka petualangan saya akhiri. Saya pun kembali ke hotel untuk mandi lagi karena berkeringat dan packing. Sekitar jam 12 siang saya akan dijemput teman untuk diantar ke Bangkok menggunakan mobilnya.

Sepertinya janjinya, saya diajak berkeliling dibagian luar lingkar Taman Bersejarah Ayutthaya (pulau). Sepanjang perjalanan saya ditunjukan sebuah hal yang bikin saya kagum, yaitu tempat beribadah dalam satu area yang terdiri dari Gereja, Vihara dan Masjid *kerenkan ?

Saya diajak ke sebuah sekolahan, yang mana istrinya ialah salah satu guru. Mayoritas murid beragama Islam bahkan terdapat juga murid yang beragama buddha dan kristen. Sungguh keharmonisan umat beragama. Dia pun berkata, tidak pernah ada yang namanya gesekan antar umat. Semua saling menghormati, kalaupun ada masalah pasti akan diselesaikan pada forum tersendiri. Jadi tidak sampai yang namanya bentrok fisik.

Sekolahan Islam di Ayutthaya, yang merupakan kaum minoritas

Saya, teman dan bersama anak-anaknya

Perjalanan menggunakan mobil akan sedikit lebih lama dari pada naik kereta, karena harus memutar dan melewati macetnya kota Bangkok. Tidak ada yang saya nikmati sepanjang perjalanan, karena sebagian besar merupakan jalan tol.

Sekitar jam 2 ntah jam 3 saya sampai dipenginapan.
Kali ini saya memilih menggunakan hostel, karena lebih banyak jalan-jalan. Untuk cerita selanjutnya selama di Kota Bangkok bisa dibaca pada Traveling di Kota Bangkok – Thailand (Day-1)