Setiap kali berbicara tentang Negara Thailand selalu kental dengan yang namanya Kota Bangkok, Pataya dan Phuket. Bagi saya mungkin sedikit berbeda, Kota Ayutthaya menjadi sasaran saya saat pertama kali tiba di negara ini.

Sejarah

Kerajaan Ayutthaya merupakan kerajaan bangsa Thai yang berdiri pada kurun waktu 1351 sampai 1767 M. Nama Ayyuthaya diambil dari Ayodhya, nama kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama, tokoh dalam Ramayana. Pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong) mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaannya dan mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai, yaitu 640 km ke arah utara, pada tahun 1376.

Peninggalan kota bersejarah Ayutthaya dan kota-kota bersejarah sekitarnya yang terdapat pada lingkungan Taman Bersejarah Ayutthaya telah dimasukkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia. Kota Ayutthaya yang baru kemudian didirikan di dekat lokasi kota lama, dan sekarang merupakan ibukota dari Provinsi Ayutthaya.

Perjalanan ke Kota Ayutthaya

Setelah semua kebutuhan komunikasi selama di Thailand selesai segera saya keluar dan menuju stasiun di depan bandara untuk menuju Kota Ayutthaya. Sebenarnya ada 2 macam transportasi yang bisa kalian gunakan untuk menuju kota ini, yaitu Mobil travel van dan kereta. Karena rasa penasaran dengan kereta di Thailand, dari awal saya menggunakan kereta untuk perjalanan kesana.

Tiket kereta ini terbilang sangat murah, tarifnya hanya 11 Baht! sekitar 4 ribu rupiah. Berdasarkan info, transportasi kereta ini mendapatkan subsidi dari kerajaan. Perjalanan ini akan ditempuh sekitar 45 menit dengan jarak kurang lebih 58 Km.

Tiket & Stasiun Kereta Don Mueang

Dengan harga tiket yang murah, saya tidak berani berekspektasi terlalu jauh. Dalam benak minimal seperti kereta kelas ekonomi di Indonesia sebelum tahun 2010 an. Tepat pukul 13.45 kereta pun tiba, walau beberapa info jadwal kereta disini sering molor. Saya pun masuk dan… jreng… jreng… aroma menyengat langsung menghantam hidung. Bahkan kondisi kereta sangat kotor, mungkin masih lebih bagus kereta kelas ekonomi di Indonesia.

Saya mendaptkan tempat duduk dan berusaha menikmati perjalanan senyaman mungkin. Sebenarnya sudah diperingatkan oleh teman (asal thailand) untuk dijemput, tapi karena rasa penasaran akhirnya saya menikmati dengan terpaksa *hahahaha kualat… Sepanjang perjalanan saya duduk tidak menggerakan badan, sambil menutup hidung. Sudahlah saya pulang tidak akan menggunakan kereta lagi.

Tiba di Kota Ayutthaya

Ntah jam berapa kereta ini sampai, yang jelas begitu sampai di stasiun Ayutthaya saya langsung menuju keluar ingin menghirup udara segar. Alhamdulillah ternyata saya sampai dengan kondisi selesai hujan turun. Suasana stasiun hampir sama di Indonesia, banyak pedagang dan angkutan Tuk-Tuk. Saya pun menawar Tuk-Tuk karena ingin menikmati udara segar menuju hotel. Perjalanan ke hotel saya tempuh sekitar 10 menit dengan biaya 100 Baht.

Saya memilih hotel The Park Ayutthaya yang berada tepat di tengah-tengah reruntuhan bekas kerajaan, tepatnya Taman Bersejarah Ayutthaya. Mungkin hotel yang saya booking melalui Agoda ini terbilang mahal, tapi melihat lokasi dan fasilitas bagi saya cukup worthed-lah. Setiap tamu boleh menggunakan motor maupun sepeda, karena lokasi tepat ditengah taman saya lebih memilih sepeda untuk keliling.

The Park Hotel – Ayutthaya

Segera saya masuk kamar untuk mandi dan berganti pakaian, berasa gerah saat naik kereta. Rencana setelah ini adalah bersepeda disekitar area taman, mencari makanan/cemilan dan dimalam hari rencana diajak makan malam oleh rekan bisnis.

Ohya, Kota Ayutthaya ini sebenarnya mirip sebuah pulau yang dikelilingi sungai.
Sungai Chao Praya merupakan sungai yang terpanjang dan cukup vital sebagai sarana transportasi laut yang utama di negara Thailand. Panjangnya yang cukup luar biasa yaitu sekitar kurang lebih 372 kilometer mengalir dari arah utara Thailand dan bermuara menuju ke  Teluk Thailand (Teluk Siam) yaitu di daerah selatan Thaiiland. Sungai ini juga membentuk Lembah Chao Phraya atau lebih populer disebut juga dengan ‘Basin Chao Phraya’.

Map Area Ayutthaya

 

Karena saya disini 2 hari 1 malam, maka petulangan saya bagi menjadi 2. Ya walaupun saya datang sore hari, begitupun besok hanya setengah hari trus lanjut ke Bangkok. Maka berusaha memaksimalkan menikmati kota bersejarah ini.

Sore ini saya bersepeda disekitar hotel, yang sebenarnya dari hotel saja sudah bisa melihat bangunan candi (‘wat’ dalam bahasa thailand). Jadi saya menikmati taman bersejarah ini dengan mengayuh pelan sepeda sambil menghirup udara segar (habis hujan).

Wat Langkhakho & Wat Nok

Rama Public Park

Ntah berapa lama bersepeda, sekitar jam 5 sore saya memutuskan untuk keluar area taman. Bersepeda menyusuri jalanan aspal ditepi taman, hingga tak sengaja melihat banyak pedagang. Saya pun menghampiri dan ternyata ini memang pasar kuliner dimalam hari. Tepatnya di jalan Bang lan, sebelah timur taman.

Bang lan market

Karena saya sudah punya rencana makan malam, maka sore ini cukup mencari cemilan dan minuman. Iseng-iseng masuk dideretan tenda-tenda penjual makanan sepanjang jalan. Setelah dapat cemilan ayam goreng (bingung cari yang halal) dan minuman juice, saya kembali ke hotel untuk beristirahat.

Malam hari sekitar jam 8, teman menjemput di hotel.
Dia mengajak makan malam saya didaerah tepi sungai Chao Praya. Sayangnya saat saya berkunjung kesini air sungai lagi tinggi, jadi sebenarnya kita bisa menikmati Kota Ayutthaya menggunakan kapal wisata penduduk lokal untuk berkeliling.

Halal night market

Menu makan malam ini saya tidak begitu repot harus makan apa, karena teman saya seorang muslim. Saya pun di ajak  ditempat kuliner area halal. Jadi yaa…saya serahkan ke dia apa saja yang penting makan bagi *hahaha…

Saya & Teman

Sambil makan pun kami ngobrol dan keisengan saya semakin dalam. Terlebih mengenai kaum muslim di daerah ini dan bagaimana bisa survive sebagai kaum minoritas. Berdasarkan cerita teman, ternyata kerukunan antara umat sangatlah baik. Mereka saling menghormati saat-saat beribadah, terbukti saya mendengarkan suara adzan yang cukup keras. Bahkan beberapa tempat ibadah bersandingan, itu kata teman. Sambil tersenyum keheranan, teman menganggap saya tidak percaya. Akhirnya dia besok akan mengajak berkeliling sebelum diantar ke Bangkok, untuk mengenal perkembangan agama Islam di Kota Ayutthaya.

Malam mulai larut, sebelum mengantar saya balik ke hotel dia mengajak saya berkeliling kota dimalam hari. Beberapa tempat dia tunjukan, bahkan sempat saya melihat rumah penduduk yang ditepian sungai separuhnya tertutup air. Kurang lebih 15 menit sampailah di hotel dan besok sekitar jam 12 siang untuk ke bangkok saya akan di antar teman.

Cerita akan berlanjut pada Traveling Thailand – Taman Bersejarah Ayutthaya (Day-2)