Negeri Melaka dikenal sebagai Melaka Bandaraya Bersejarah, 1989, merupakan salah satu negeri (provinsi) di Malaysia. Pada tahun 2008 Melaka dan George Town, dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage).

Day-1 Perjalanan Ke Negeri Melaka

Pagi ini perjalanan saya mulai dari KL sentral menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) menggunakan KTM Komputer. Perjalanan ini ditempuh kurang lebih 20 menit dengan biaya tiket RM1. Sebenarnya untuk menuju TBS ini bisa juga menggunakan kereta KLIA Transit dengan waktu tempuh kurang lebih 7 menit dengan biaya RM4.20. Kereta KLIA Transit ini bisa kalian manfaatkan apabila terjadi antrian panjang pada KTM Komuter (pada jam sibuk).

Terminal Bersepadu Selatan (TBS) merupakan terminal bus terbesar yang menghubungkan antar negara bagian di Malaysia. Bahkan tersedia juga transportasi bus untuk lintas negara, seperti ke Singapore ataupun Thailand.

Dari Bandar Tasik Selatan ke Terminal Bersepadu Selatan

Karena saya menggunakan KTM Komuter, maka turun di stasiun Bandar Tasik Selatan. Dari stasiun ini menuju TBS dihubungkan sebuah jembatan, jadi tinggal jalan kaki sekitar 8 menit. Begitu masuk ke dalam terminal langsung mendapati mainhall yang cukup luas, dibagian tengah merupakan loket tempat penjualan tiket. Disini setiap loket tidak ada beda, karena semua loket melayani semua rute perjalanan yang kita inginkan. Saya pun mencari loket yang sepi antriannya. Dan perlu diketahui klo di terminal ini tidak ada yang namanya  calo, jadi tidak perlu kuatir.

Tiket ke Negeri Melaka saya dapatkan dengan harga RM10.
Lama perjalanan yang akan saya tempuh sekitar 2 jam, dengan jarak kurang lebih 148 Km. Mengacu pada jam kedatangan saya saat antri di loket, akhirnya mendapatkan bus “Mayang Sari” dengan keberangkatan pada jam 15.30 di Gate 16. Segera saya menuju gate dengan sekali pemeriksaan sebelum menaiki eskalator.

Antrian loket & Tiket menuju Melaka

Sampai di Terminal Melaka

Bus tiba sekitar pukul 17.30 langit pun masih cerah, mungkin klo di Indonesia pada jam ini sudah agak gelap. Terminal Melaka ini terbagi menjadi dua yaitu Domestik dan Antar Bangsa. Domestik ini merupakan bus dengan rute dalam kota, sedangkan antar bangsa itu bus untuk rute ke negara lain. Segera saya masuk untuk mencari bus yang menuju ke tengah kota yang sering disebut tujuan Stadthuys atau Cityhall.

Saya mendapatkan bus “Panorama Melaka” pada jalur 17 dengan tujuan akhir adalah Ujong Pasir. Antrian bus pada jalur ini terbilang yang paling ramai diantara jalur lain, mungkin karena tujuan wisata ataupun tengah kota. Untuk bus ini tidak perlu membeli tiket di loket, tapi diatas bus ada kondektur yang akan keliling. Ongkos bus ini RM2 dengan lama perjalanan sekitar 20 menit.

Bus “Panorama Melaka” dari Terminal Melaka menuju Stadthuys

Sampai di Stadthuys / Cityhall

Awalnya sempat bingung harus berhenti dimana, saya buka google map dengan mengikuti jalur bus ini. Dengan harapan apabila mendekati tujuan yang saya inginkan minta berhenti. Ternyata sebenarnya sangat mudah, apabila bus sudah memasuki daerah dengan bangunan berwarna merah, maka akan sampai. Saat saya turun ternyata juga hampir setengah penumpang turun ditempat yang sama *hahahah…

Saat turun langsung disambut dengan bangunan merah yang khas arsitektur eropa yaitu Stadthuys. Disini juga terdapat bangunan yang jadi icon melaka, yaitu Christ Church. Sebuah gereja peninggalan kolonial yang berwarna merah dengan hiasan taman pada bagian pelataran. Saya pun tidak berhenti lama di Cityhall ini, cukup lihat-lihat suasana sekitar.

Christ Church Melaka

Check-in Penginapan

Untuk penginapan saya menggunakan NOMAPS Flashpacker Hostel, berjarak sekitar 300 meter dari Cityhall dengan berjalan kaki kurang lebih 5 menit. Untuk harga per-bed agak sedikit mahal dibanding hostel yang lain. Tapi melihat fasilitas, kebersihan, bangunan dan makanan yang tersedia, menurut saya sangat worthed dan pantas untuk direkomendasikan. Lokasi hostel ini dekat sekali dengan melaka river, jonker street, hardrock cafe dan outlet H&M.

NOMAPS Flashpacker Hostel

Setelah check-in saya segera berbenah, mandi dan bersiap untuk jalan-jalan sambil cari makan malam.

Jonker Street & Melaka River

Suasana malam hari sangat ramai, terlebih di daerah Jonker Street yang tidak jauh dari penginapan saya. Tapi rata-rata yang saya lihat wisatawan didaerah ini dengan umur yang matang, berkisar 28 tahun ke atas. Mungkin tidak banyak anak muda yang menyukai tempat wisata sejarah. Saya tidak berniat berjalan jauh, karena berniat untuk melepas lelah saja, jadi berjalan disekitaran depan jonker dan Cityhall.

Jonker Street

Sebelum masuk ke kawasan Jonker street harus melewati sebuah jembatan dibawahnya adalah sungai melaka. Pemandangan dari jembatan sangat menarik, jadi bagi kalian yang kesini jangan lupa berfoto ria. Saya pun sempat berjalan ditepi sungai karena ramai sekali orang berfoto, bahkan banyak pedagang makanan maupun minuman disekitar tepi sungai.

Ntah karena capek atau tidak selera makan, saya memilih membeli roti dan minuman milo ditepi sungai melaka. Ntah sugesti traveling atau memang karena kota ini merupakan kawasan sejarah, jadi hati ini rasanya tenang. Saya hanya duduk ditepian sungai melaka sambil menikmati suasana sekitar.

Melaka River

Sekitar pukul 22.00 saya memutuskan untuk balik ke penginapan untuk istirahat. Karena besok saya akan mengexplore melaka lebih banyak.

Berlanjut pada petualangan Day-2 Wisata Sejarah Pemerintahan Melaka – Malaysia