Mui Ne (Phan Thiết) merupakan kota nelayan di pesisir provinsi Thuan Binch dengan penduduk sekitar 25.000 jiwa. Kota ini membentang pantai sepanjang 50 km, telah menjadi tujuan wisata sejak pertengahan tahun 1990.

Day-4 Mui Ne City

Persiapan Melanjutkan Petualangan

Pagi ini pukul 07.00 saya sudah siap dan segera melakukan check-out hotel setelah itu sarapan.
Alhamdulillah saya mendapatkan makanan halal ditemani secangkir kopi. Kurang lebih 10 menit makan, saya segera melakukan check-in tiket untuk segera mendapatkan tempat duduk. Ohya, sekedar info kalau penumpang harus duduk berdasarkan nomer kursi yang tertera pada tiket saat check-in dan mendapatkan air mineral satu botol + tisu basah.


Saya harus berpindah ke Kota Mui Ne, menggunakan bus TheSinh Tourist pada jam 07.30 dengan lama perjalanan sekitar 4 jam. Bus yang saya naikin merupakan bus biasa, bukan tipe sleeper bus karena perjalanan dipagi/siang hari. Tapi cukup nyaman karena jarak antar kursi tidak dekat dan terdapat pijakan untuk kaki, jadi tidak capek. Layaknya bus malam di Indonesia, sandaran kursi juga bisa ditidurkan sayangnya tidak terdapat toilet didalamnya.

Perjalanan ke Mui Ne

Sebuah pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan, bentangan alam dengan lukisan sang pencipta. Jalan yang dilalui tidak begitu besar dan berkelok-kelok, bagi kalian yang tidak kuat siapkan kresek buat jackpot, lol.Ditengah perjalanan kurang lebih 2 jam dari keberangkatan, bus berhenti ditempat semacam rest area untuk memberikan waktu bagi penumpang untuk ke toilet. Saya pun keluar bus untuk buang air kecil, ternyata cuaca sangat panas walau didaerah pegunungan. Kurang lebih 30 menit berhenti, bus pun melanjutkan perjalanan.

Setelah pemberhentian ternyata saya tertidur hingga terbangun saat suara lalu lintas yang mulai bising, ternyata sudah masuk kota. Tepat pukul 11.30 bus sampai di kantor TheSinh Tourist cabang Kota Mui Ne, saya pun turun dan langsung masuk kantor melakukan check-in untuk mengikuti tour Mui Ne Half Day. Tour yang saya ikutin ini dimulai pada jam 14.30 – 17.45 dengan 3 tujuan wisata, nanti saya bahas.

Saat Tiba di Mui Ne

Ada beberapa hal yang harus saya lakukan, yaitu

  1. Mencari ATM, karena persediaan uang saya menipis
  2. Saya harus mencari tiket bus untuk tujuan Kota Mui Ne ke Ho chi Minh. Karena pada saat di agen bus Ho chi Minh tidak bisa booking, harus di kota setempat untuk melakukan booking
  3. Mencari makan dan tempat santai untuk menghabiskan waktu menunggu tour.
  4. Mencari hostel yang bisa dinego seperti yang saya lakukan sewaktu di hostel Ho chi Minh, untuk titip barang, charging handphone berserta kamera dan untuk mandi.

Baik, saya buka google map untuk melakukan itu semua.
Untuk hostel cukup banyak disekitar daerah ini, jadi saya tidak terlalu memikirkan. Berdasarkan peta sekitar 200 meter terdapat ATM, tetapi untuk agen bus phuong trang ternyata lumayan jauh sekitar 2 km. Akhirnya saya titipkan tas di agen bus dan berjalan kaki ke ATM. Ternyata banyak juga restaurant disekitar yang menjual makanan menu ikan laut dengan view pantai, hanya saja tidak terlihat mencolok dari jauh. Setelah dari ATM dan pegang uang, saya berjalan balik sambil mencari ojek ataupun taxi yang bisa menghantar ke agen bus, ternyata saya belum beruntung sampai ditempat saya semula tidak mendapatkan ojek maupun taxi yang kosong.

Booking Tiket Sleeper Bus

Keisengan muncul melihat beberapa agen tour lokal, saya pun mendatangi dengan pemikiran mungkin mereka menjual tiket bus. Ternyata benar mereka menyediakan tiket bus yang saya butuhkan, hanya saja berbeda perusahan tetapi dengan harga yang sama dengan bus phuong trang. Karena saya anggap sama saja dan melihat busnya juga bagus (dari foto) saya bayar tiket tersebut, dengan keberangkatan pukul 01.00 (dini hari).

Makan Siang

Karena begitu lapar setelah berpikir dan berjalan kaki. Saya mencoba mengunjungi restaurant yang sudah saya lirik tadi saat mengambil uang di ATM dan mengincar tempat duduk persis mengarah ke pantai. Menu yang saya pilih adalah udang goreng, cari yang simpel dan penasaran karena dimasak dengan bumbu vietnam. Tidak lupa dengan nasi, maklum orang Indonesia kalau tidak makan nasi namanya bukan makan *hahahah…. Selesai makan sambil santai, saya buka agoda untuk melihat penginapan sekitar dan mencari yang paling murah. Bayar dikasir dengan total VND 155.000.

Guest House

Sekitar pukul 12.00 saya beranjak dari restauran dan menuju penginapan (guesthouse) yang sudah saya incar. Tepatnya tidak jauh dari agen tour maupun tempat saya makan hanya masuk gang sekitar 20 meter. Saya bertemu dengan pemilik guesthouse dan mengutarakan kalau saya hanya titip tas, listrik untuk charging, mandi dan rebahan menunggu bus. Pemilik memahami dan mengeluarkan harga VND 150.000, saya melakukan nego VND 75.000. Akhirnya deal dengan harga VND 100.000, saya segera mengambil tas yang saya titipkan di agen bus dan bersiap untuk mengikuti tour.

Pukul 14.00 saya sudah bersiap di kantor agen tour, sekitar 15 menit sebelum keberangkatan kami semua disuruh masuk bus. Tour guide kali ini wanita namanya Nham *klo nggk salah inget, sering lupa klo urusan cewek hahaha….

Fishing Village

Tujuan pertama tour ini adalah Fishing Village (kampung nelayan), dengan tujuan menyaksikan kehidupan lokal. Tempat ini hanya berjarak sekitar 10 menit dari kami berangkat, dengan lokasi pinggir pantai. Untuk area pantainya menurut saya kurang bagus, terbilang kotor karena merupakan bibir pantai yang dipenuhi dengan aktifitas sekaligus pemukiman nelayan.

Fishing Village

Ada yang unik dan lucu yaitu bentuk perahu nelayan yang berbentuk bulat seperti mangkuk dan bendera Vietnam disetiap perahu. Banyak gerobak makanan dan restoran terbuka di sepanjang pantai, dimana wisatawan bisa mencicipi hidangan tradisional Vietnam seperti daging sapi pho, banh mi, banh xeo (Vietnam pancake) dan berbagai seafood bakar. Sayangnya saat disini saya hanya diberi waktu 15 menit untuk melihat-lihat ataupun berfoto. Saya manfaatkan waktu itu untuk menurunin tangga kebawah dari jalan untuk melihat dan memfoto nelayan dari jarak dekat.

Perahu – Fishing Village Mui Ne

Perjalanan tour pun dilanjutkan menuju White Sand Dunes, yang berjarak 27 km dan ditempuh dengan waktu kurang lebih 35 menit. Ditengah perjalanan kami melewati Red Sand Dunes, ini akan menjadi tujuan akhir yang hampir mirip dengan White Sand Dunes hanya saja akan lebih bagus menikmatinya disaat sunset. Kota Mui Ne sendiri terbilang bukan kota yang ramai kalau dibanding dengan Kota Dalat, atau karena mungkin saya berada didaerah tepian pantai. Dari beberapa artikel yang saya baca pun lebih banyak artikel berbahasa inggris, ini menunjukan jarangnya turis dari Indonesia atau mungkin saya nggk nemu atau mereka lagi malas nulis *ahh… sudahlah.

White Sand Dunes

Masuk dikawasan ini jalanan terlihat luas, 2 jalur lajur jalan dengan hiasan taman dibagian tengahnya. Sebuah pemandangan layaknya gurun pasir dengan pembatas air danau menambah indahnya hamparan pasir putih ini.

Sesampai di area parkir sebelum kami semua turun, tour guide memberikan informasi kalau yang ingin naik ATV (kapasitas 3 orang) ataupun Jeep (kapasitas 5 orang) bisa dibantu untuk membelikan tiket, karena tempat ini cukup ramai dikunjungi, jadi takut tidak mendapatkan alokasi kendaraan  tersebut dengan waktu yang memadai. Saya diberi waktu sekitar 45 menit untuk menikmati tempat ini. Secepat mungkin saya jalan menuju ke tengah White Sand Dunes, karena saya sudah mengincar beberapa spot untuk foto *gayanya kaya photographer aja hiks…

White Sand Dunes

Sebenarnya masih banyak spot foto yang ingin saya dapatkan, tetapi waktu yang tidak memungkinan. Insyallah klo ada waktu dan rejeki, pasti saya akan datang mengunjunginya lagi, dengan minimal 2 hari dikota ini. Terlebih pada spot tepi danau akan terlihat eksotis saat sunrise dengan background hamparan pasir putih.

Kagum, berasa dinegeri antah-branta (White Sand Dunes)

Setelah saya anggap cukup walau tidak puas, 5 menit sebelum waktu yang ditentukan saya bergegas jalan balik ketempat parkir bus. Pukul 16.50 setelah semua kumpul, tour pun dilanjutkan menuju Red Sand Dunes, sekaligus merupakan arah pulang.

Red Sand Dunes

Kurang lebih 20 menit perjalanan, sampailah di Red Sand Dunes. Sebuah hamparan gurun pasir dimana warnanya agak coklat dibanding dengan White Sand Dunes dan apabila terkena sinar matahari saat sunset terihat merah.

Sunset (Red Sand Dunes)

Red Sand Dunes ini sendiri pasirnya kurang bersih, begitu juga kalau dilihat dari jauh hamparan pasir harus terbelah dan terhimpit oleh hutan sekitar. Satu hal yang menarik yaitu gundukan pasir yang bergelombang disinari matahari senja, kalau kita ambil foto bisa dibilang mode siluet yang menekankan bayangan senja.

Narsis boleh kan ? (Red Sand Dunes)

Saya hanya mengambil beberapa foto, karena terlalu ramai akan pengunjung jadi hasil foto tidak akan terlihat bersih. Ditempat ini tour guide memberi waktu kurang lebih 30 menit, karena waktu masih banyak saya pergunakan untuk jalan-jalan dan mengamati sekitar. Karena haus dan capek akhirnya berhenti dan duduk dikedai dekat parkirnya bus, saya membeli es kelapa muda seharga VND 30.000.

Suasana ataupun lokasi tempat ini terlihat lebih ramai akan turis, karena kalau melihat posisinya persis ditepi jalan. Disini lebih banyak pedagang asongan dan kedai-kedai di tepi jalan, yang menjajakan cemilan, kerajinan tangan, kaos, makanan dan minuman. Nah, bagi kalian yang ingin bermain pasir tersedia semacam alat yang disewakan untuk menurunin gunung pasir dari atas kebawah.

Waktu menunjukan pukul 17.45 yang merupakan akhir dari pada tour ini. Perjalanan pulang kurang lebih 15 menit sampai di kantor agen. Sebuah petualangan setengah hari yang sangat berkesan dan mungkin tidak akan pernah saya lupakan.

Persiapan Melanjutkan Petualangan

Hari mulai petang sampai di guest house, segera saya charging gadget dan saya tinggal mandi.
Saya pun rebahan sebentar, karena berencana makan malam diluar sekaligus menikmati malam hari ditepi pantai. Sekitar pukul 20.00 jalan keluar, dan ternyata sepi saudara-saudara *hahaha… hanya terlihat beberapa turis yang jalan kaki. Menu makan malam kali ini yang saya pilih adalah sup mie dengan daging sapi dan tentunya ditemani kopi lagi, total harga VND 55.000. Selesai makan saya balik kamar, berharap bisa tidur ataupun rebahan.

Pukul 00.15 saya bersiap dan keluar penginapan untuk menunggu bus didepan agen.
Suasana sangat sepi, sesekali ada sepeda motor ataupun mobil lewat. Sejauh mata memandang tidak melihat kedai ataupun toko yang buka dimalam hari, padahal ini adalah daerah wisata.

Pertemuan dan Cerita Singkat

Saya melihat ada sepasang cewek-cowok (umur berkisar 24-28 tahunan) yang duduk dikursi samping kantor agen bus, sepertinya juga menunggu bus. Saya pun duduk bersebelahan dan memulai pembicaraan dengan bertanya mau kemana dan naik bus apa *jadi wartawan nih hahaha….

Dan…jreng…jreng… *kaget
Mereka sepasang kekasih asal hongkong yang berniat liburan selama 7 hari di Vietnam dan sedang menunggu bus untuk ke Airport Cam Ranh. Kemarin mereka mengalami kecelakaan saat naik sepeda motor (sewa) menuju White Sand Dunes. Kecelakaan terjadi karena mereka menghindar dari motor pengendara lain yang mengakibatkan motor menepi dan disambut jalanan berpasir, sehingga ban selip.

Jujur saya pun merasakan betapa sedihnya *empati ceritanya cieeee…
Karena kecelakaan itu terjadi dihari ke dua mereka di Vietnam, yang akhirnya mereka harus membatalkan semua rencana dan pulang besok. Padahal semua bus dan tour sudah mereka booking dihari pertama dan itu tidak bisa dicancel dengan alasan apapun.

Duh jadi baper nih…
Kurang lebih 30 menit bus mereka datang.

Menunggu Bus

Waktu menunjukan pukul 00.45 saya menunggu bus sendirian yang tak kunjung tiba *kasihan yaa…, walau ada beberapa bus yang berhenti tapi saya tahu itu bukan bus saya, karena berwarna merah. Sedangkan yang saya tahu saat booking tiket ditunjukan warnanya biru-putih, untuk nama bus kurang jelas (lupa). Saya hanya memegang selembar nota (bukan tiket) dan tidak ada keterangan nama bus hanya tulisan vietnam dan yang jelas saya bisa baca “Mui Ne – Saigon”.

Keisengan saya muncul saat ada bus berhenti diseberang saya duduk, saya coba tanya “apa ini bus ke saigon (Ho Chi Minh)” kondektur bus melihat tiket saya dan bilang “Yes”. Alhamdulillah, saya segera memasukan tas ke dalam bagasi bus di bagian samping dan naik seperti bus sebelumnya harus lepas alas kaki.

Setelah mendapatkan kursi, saya pun akhirnya berpikir *sepertinya saya kena tipu lagi hahaha…
Kenapa ? bus saat saya booking di agen tiket ditunjukan dengan foto bus warna biru-putih yang bagus, sedangkan yang saya naikin ini warna merah dan terkesan jelek walau sama tipe (sleeper bus). Walau saya tidak tahu tentang model bus tapi terlihat dari dashboard bagian depan, terkesan kuno bahkan suara mesin terdengar agak bising. Dari sisi fasilitas tidak terdapat selimut dikursi, lampu baca tidak bisa dinyalakan dan meja pada kursi kotor dengan bentuk gupil-gupil (pecah nggk beraturan).

Trus…seandainya saya tidak iseng tanya, mungkin saya akan semalaman menunggu bus biru-putih *hahahaha…
Ah Sudahlah… saya anggap ini pengalaman, yang penting sampai ke Kota Ho Chi Minh dipagi hari dan melanjutkan petualangan.
Selamat tidur…

Catatan : pengeluaran hari ini adalah sebesar VND 340.000 (+/- Rp200.000)

Untuk Day-5 akan berlanjut di Traveling Vietnam – Cu Chi Tunnels