Ho Chi Minh adalah seorang tokoh revolusi dan merupakan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri dan Presiden Vietnam Utara. Sekarang dikenang dengan dijadikan nama kota pengganti nama Saigon yang terletak di tepi sungai saigon.

Day-2 Ho Chi Minh City

Hari ini perjalanan saya mulai dari Kuala Lumpur karena dihari pertama traveling kali ini saya harus ada urusan kerjaan sedikit. Saya harus menuju Airport KLIA2 dipagi hari, karena penerbangan pukul 11.30. Untuk perjalanan dari KL sentral ke Airport butuh waktu kurang lebih 1,5 jam menggunakan Aero bus karena lebih irit hanya 12RM dibanding menggunakan KLIA Express butuh waktu hanya 45 menit tapi dengan biaya 45RM.

Penerbangan dari KLIA2 – Kuala Lumpur menuju Tan Son Nhat International Airport – Vietnam membutuhkan waktu sekitar 55 menit dan alhamdulillah semua lancar, tidak ada delay maupun antrian yang padat dibagian imigrasi.

Tan Son Nhat International Airport

Hal pertama yang saya cari saat masuk bandara setelah imigrasi dan customs adalah money changer, karena saya tidak membawa uang VND. Strategi untuk kali ini saya akan memanfaatkan ATM untuk mendapatkan VND karena dari beberapa informasi nilai kurs lebih bagus dari pada tukar di money changer Indonesia maupun Vietnam. Ohya saya membawa mata uang $100 USD sebagai cadangan, yang tidak akan saya tukarkan kalau tidak mendesak dan uang $25 SGD sisa dari beberapa petualangan sebelumnya. Saya tukarkan SGD $25 untuk membeli SIMcard, naik bus dan makan siang.

Setelah dapat uang VND hasil exchange saya mencari penjual kartu SIMcard, ternyata begitu banyak stand yang menjual SIMcard. Setelah pilih-pilih disepanjang stand untuk membandingkan harga ternyata hampir rata-rata sama, yaitu harga VND 170.000 (3G) & VND 200.000(4G). Saya putuskan untuk membeli yang 3G, walau handphone saya support 4G saya tidak membelinya karena saya akan berpetualang ke 3 kota kecil dan yakin disana belum support 4G jadi percuma. Saya berikan handphone untuk mereka lakukan setting dan ternyata setelah saya lihat pada kotak SIMcard bertuliskan 4G *hahahah… Saya baru sadar ternyata mereka hanya melakukan trick penjualan dengan membedakan harga antara 3G & 4G padahal kartunya sama, inilah kenapa Vietnam terkenal sekali dengan scam (penipuan) cerita beberapa traveler.

Keluar pintu bandara segera saya cari makan karena perut keroncongan, dipagi hari cuman sarapan roti bakar 2 slice + kopi. Sambil cari smooking area dapatlah fastfood (Burger King) dipojok kanan pintu keluar bandara internasional, saya anggap makanan ini halal dengan harga VND 100.000 dari pada saya masuk kota masih cari-cari makanan halal. Sesaat makan nggk sengaja melihat ATM disamping area makan burger king, berasa lebih lega dengan pemikiran saya masuk tengah kota sudah siap semua dengan membawa uang ambil dari ATM.

Distric 1 – Phạm Ngũ Lão

Untuk menuju kota saya menggunakan transportasi umum  depan bandara persis yaitu bus dengan kode 152 tujuan Ben Thanh Market, dengan biaya VND 5000. Sepanjang perjalanan disuguhin sebuah gambaran hiruk-pikuknya lalu lintas di Ho chi minh, yang banyak traveler bilang kaya semut + semrawut. Yang lebih bikin saya geleng-geleng saat melihat rangkaian kabel dipinggir jalan, seperti gumpalan benang yang kusut. Kalau kita terbiasa melihat lalu lintas dan tatanan kabel di Indonesia akan terasa lega, karena ada yang lebih parah.

Sampailah saya di terminal Ben Thanh Market, segera turun dan membuka peta kemana arah agen bus Thesinh Tourist dan Phuong Trang. Kurang lebih jalan kaki sekitar 10 menit karena sambil mengamati daerah sekitar, sampailah di agen Bus Phuong Trang segera saya lakukan booking tiket bus. Saya harus menggunakan 2 agen ini karena untuk menyesuaikan jam yang saya inginkan sesuai rencana (itinerary). Untuk agen Phuong Trang tidak menyediakan tour hanya bus saja keseluruh kota di Vietnam dan untuk TheSinh Tourist menyediakan tour wisata dan bus antar kota, hanya saja untuk busnya tidak semua jam ada. Setelah booking bus selesai waktunya mencari agen TheSinh Tourist, buka peta dan ternyata tempatnya bersebelahan satu deret selisih 4-5 ruko klo nggk salah ingat. Saya booking semua tour disetiap kota yang saya rencanakan dan alhamdulillah tidak ada perubahan biaya maupun waktu keberangkatan.

Agen Bus Phuong trang

Kurang lebih 1 jam saya melakukan booking bus dan tour, saatnya mencari penitipan tas karena di agen bus Phuong Trang tidak menerima penitipan. Saya mau jalan-jalan keliling kota tanpa diribetkan dengan tas troly dan butuh mandi sebelum naik sleeper bus melanjutkan perjalanan. Nggk kurang akal, saya datangin hostel (lupa namanya) didepan kantor agen bus Phuong Trang resepsionisnya cewek dan saya utarakan “kalau saya tidak mau menginap hanya mau titip tas, charging hp & mandi karena saya mau jalan-jalan dan kembali dimalam hari” dan saya bilang “kalau saya akan bayar”. Tanpa tunggu mikir (atau sudah biasa) dia bilang “tidak masalah dan dengan senang hati kalau mau bayar” akhirnya dia menyebutkan angka VND 50.000 (+/- Rp30.000) tanpa melalui tawar menawar saya iyakan saja, karena bagi saya cukup murah karena nggk mau ribet dengan kondisi capek kalau harus keliling cari penitipan dan lagian ini hostel persis didepan agen bus tempat saya berangkat.

Ok, i’m done!
Waktunya jalan-jalan ke tengah kota dengan tujuan awal Saigon Notre Dame, buka peta ternyata hanya berjarak sekitar 2,2km atau sekitar 25 menit jalan kaki. Karena saya tidak terkejar waktu maka saya putuskan untuk jalan kaki sambil jalan-jalan, sepanjang jalan district 1 banyak juga ojek ataupun taxi yang menawarkan jasanya. Ternyata memang ada kemiripan dengan di Indonesia, untuk daerah padat turis banyak sekali pedagang asongan maupun kaki lima dipinggir jalan, saya menyempatkan menikmati kopi vietnam seharga VND 10.000 dipinggir jalan karena tertarik dengan kursi duduknya yang kecil seperti tempat bermain anak-anak *tapi benernya emang haus juga sih hahaha…

Saigon Notre Dame

Ntah berapa lama saya berjalan kaki karena benar-benar menikmati suasana kota, sampailah di Saigon Notre Dame (Nhà Thờ Đức Bà). Ini adalah gereja tertua di kota Ho Chi Minh dengan bentuk khas arsitektur Eropa, yang saya lihat modelnya hampir sama di Kota Melaka – Malaysia maupun Gereja Ijen di kota saya sendiri berasal. Saya berkeliling dari sisi mulai samping kiri seberang gereja, ternyata ada beberapa photographer yang sedang melakukan pengambilan foto untuk preweeding dan model.

Disamping kanan gereja terdapat sebuah jalan (seperti gang) yang terlihat bersih, rapi serta unik, pada sisi kiri terdapat outlet buku dan bunga sedangkan disisi kanan terdapat deretan cafe dengan konsep cafe buku (semacam perpustakaan). Di jalan ini banyak juga photographer yang melakukan pengambilan foto dengan nuansa outlet bergaya modern dan hiasan tatanan penjual bunga yang terlihat anggun, serta cafe-cafe unik.

Saigon Notre Dame (Nhà Thờ Đức Bà)

Saigon Central Post Office

Saya lanjutkan menyusuri samping kanan gereja dan melihat disebuah bangunan yang ramai akan turis, sayapun mendekat dan ternyata itu adalah Central Post Office (Bưu điện Trung tâm Sài Gòn) di Kota Ho Chi Minh. Pada waktu menyusun rencana saya memang pernah membaca mengenai tempat-tempat mana saja yang harus dikunjungi, tapi saya tidak merencanakan untuk tempat yang satu ini karena kurang tertarik. Yaa…ternyata berdekatan, akhirnya saya masuk juga untuk sekedar melihat-lihat. Disini banyak para turis yang membeli kartu pos untuk dikirim maupun dibawa untuk sekedar kenang-kenangan.

Saigon Central Post Office

Saya sempatkan foto dan duduk sambil minum yang saya beli ditoko semacam seven eleven (VND 15.000) didaerah sekitar, tempat ini merupakan tujuan utama dari pada turis yang datang ke Kota Ho Chi Minh – Vietnam. Banyak juga para penjual cinderamata model asongan disekitar gereja dan kantor pos.

Ho Chi Minh City Hall

Lanjut jalan kaki menuju Ho Chi Minh City Hall (Trụ sở Ủy ban Nhân), sepanjang jalan masih banyak bangunan dengan gaya eropa dan tertata rapi untuk trotoar beserta taman pinggir jalan. Kurang lebih 10 menit berjalan sampailah dengan pemandangan gedung berarsitekur eropa yang megah dengan hamparan taman yang memanjang. Ditengah-tengah taman ini terdapat patung sang tokoh yaitu Ho Chi Minh sebagai simbol kota sekaligus ibu kota Vietnam saat ini. Karena suasana senja yang cerah, tidak pakai lama saya keluarkan semua peralatan kamera. Momen senja paling saya sukai dalam pengambilan foto, terlebih yang bersifat klasik ataupun heritage.

Ho Chi Minh City Hall

Setelah puas mengabadikan momen dan terlihat hari sudah gelap maka saya lanjutkan jalan kaki menuju Ben Thanh Market sekaligus ini merupakan kearah agen bus. Tidak ada yang menarik sepanjang jalan ini, karena pemerintah Vietnam sedang melakukan pembangunan untuk proyek kereta bawah tanah. Disamping kiri jalan yang lewati hanyalah papan penutup proyek dan disamping kanan berderet toko dengan hiasan pedagang didepan toko *persis kaya di Indonesia hahaha…

Ohya, Ben Thanh Market adalah pasar yang terdiri dari bagian dalam dan luar, untuk bagian dalam hanya buka dari pagi-sore dan bagian luar buka mulai sore-malam. Saya hanya berniat untuk jalan-jalan, minimal punya gambaran apa yang harus saya beli untuk oleh-oleh saat pulang nanti. Untuk eksekusi beli oleh-oleh saya rencanakan dihari terakhir setelah balik dari Kota Mui Ne. Mengenai pasar ini akan saya bahas lebih lengkap pada cerita akhir perjalanan.

Distric 1 – Bùi Viện

Sekitar pukul 19.45 saya melanjutkan jalan kaki menuju hostel tempat saya titipkan tas untuk persiapan (ganti baju & mandi) perjalanan ke Kota Dalat. Setelah semua persiapan selesai ternyata waktu masih menunjukan pukul 20.30, saya pergunakan untuk jalan-jalan disekitar kawasan ini. Akhirnya saya duduk ditaman untuk minum es kopi seharga VND 10.000 sambil mengamati aktivitas kota ini dimalam hari. Ada seseorang menghampiri, ternyata makelar yang menawarkan cewek berserta kamar (untuk sex) *dalam hati, sama aja disetiap kota dan negara hahaha… Karena risih saya lanjut jalan-jalan dan melihat tempat massage, saya berpikir lumayanlah untuk rileksasi kaki habis jalan. Saya ambil paket pijat kaki 30 menit seharga VND 90.000, eeh…ternyata setelah selesai dan sewaktu saya mau membayar, kasir menunjukan sebuah kertas yang bertuliskan terdapat biaya tips sebesar minimal VND 40.000. Sudahlah saya bayar, lagian pijatnya lumayan enak anggap saja pengalaman kena scam pertama *hahaha….

Waktu menunjukan pukul 22.00, segera saya jalan menuju agen bus.
Bus menuju Kota Dalat yang saya booking adalah tipe Sleeper Bus pada pukul 22.20 dengan lama perjalanan sekitar 7 jam. Pukul 22.10 saya sudah duduk di agen Phuong Trang menunggu kedatangan bus, ternyata penumpang tidak langsung naik bus. Agen Phuong Trang di daerah district 1 ini merupakan agen tengah kota, dimana setiap penumpang akan dinaikan dahulu menggunakan mobil van (shuttle) menuju Agen Phuong Trang di pinggir kota.

Kurang lebih perjalanan 10 menit menggunakan mobil van, sampailah di agen Phuong Trang pinggir kota. Selanjutnya seluruh penumpang diharuskan melakukan check-in (layaknya naik pesawat) serta diberi sebotol air mineral dan tisu basah *buat basuh muka, jangan berpikir negatif.

Pukul 22.45 beberapa bus tiba dan seluruh penumpang antri untuk didata. Pada saat masuk bus setiap penumpang diberi plastik kresek, karena masuk kedalam bus harus melepas alas kaki. Sleeper bus ini terbilang nyaman dan bersih, setiap kursi terdapat selimut dan dibagian atas terdapat lampu led untuk penerangan baca. Terdapat kamar mandi di dalamnya tapi sayangnya belum sempat saya coba dan tidak terdapat colokan untuk charger, buat saya nggk masalah karena sudah tahu dari beberapa info traveler lain.
Tidur dulu yaa…

Catatan : pengeluaran hari ini adalah sebesar VND 475.000 (+/- Rp290.000)

Untuk Day-3 akan berlanjut di Traveling ke Kota Dalat – Vietnam