Melaka salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Tatanan dan bangunan Kota Melaka seakan membawa kita jauh kembali ke masa lampau. Ini yang perlu saya explore karena cukup menarik untuk sebuah petualangan.

Day-3 Explore Melaka

Pagi ini agak sedikit bermalas-malasan
Karena kemarin seharian berjalan keliling untuk menikmati sejarah pemerintahan Melaka. Sekitar pukul 10.00 saya bersiap untuk jalan. Rencana hari ini adalah mengexplore kawasan jonker street yang terkenal dengan arsitektur lama dengan bangunan tuanya.

Kali ini saya mesti lewat depan hostel untuk memulai rute yang sudah saya rencanakan. Ohya hostel yang saya booking ini mempunyai 2 pintu depan dan belakang (memanjang). Nah yang keren begitu keluar mellaui pintu depan dan melihat sebelah kiri, maka akan dihadapkan langsung pemandangan sungi melaka.

Foto ini saya ambil dari seberang sungai.

Rute explore dengan berjalan kaki

Ntah berapa lama waktu yang dibutuhkan, yang jelas saya hanya ingin jalan-jalan menikmati kota warisan ini.

Hampir sepanjang jalan terdiri dari rumah dan beberapa kedai yang mempunyai bentuk bangunan kuno. Bahkan untuk hotel dan cafe modern  pun, tetap mempertahankan bentuk bangunan lama walau mereka melakukan renovasi. Bangunan-bangunan ini merupakan peninggalan penjajahan oleh Belanda, Portugis dan Inggris.

Ada sebuah bangunan dengan halaman yang terdapat sebuah patung.

Ternyata ini adalah sebuah monumen Datuk Wira Dr Gan Boon Leong. Lahir pada tahun 1937, ia Malaysia binaragawan paling sukses – setelah memenangkan hadiah binaraga yang tak terhitung jumlahnya, termasuk Mr. Asia dan bahkan Mr Universe. Juga dikenal sebagai ‘Bapak Bodybuilding di Malaysia’, berusia 85 tahun  Datuk Wira sekarang.

Datuk Wira Dr Gan Boon Leong

Sampailah saya disudut kawasan ini, tepatnya gerbang masuk bagian utara. Terdapat sebuah gereja dengan bentuk yang khas juga dan semacam gapura selamat datang. Gereja ini dibangun pada tahun 1908 dan awalnya dikenal sebagai Kabu Methodist Church.

Memasuki jalan gapura ini terdapat banyak kedai ataupun bangunan ruko yang menjual makanan dan minuman. Kurang lebih 100 meter masuk, jalan akan terpecah menjadi dua. Pada bagian tengah sebenarnya pada malam hari akan ramai, terdapat semacam night market.

Gereja dan Gapura, yang berada pada sudut utara kawasan jonker

Saya mengambil jalur sebelah kanan, karena terlihat lebih ramai. Saya menemukan Makam Hang Kasturi disebelah kiri jalan diantara deretan kedai-kedai. Hang Kasturi merupakan salah seorang daripada lima pahlawan Melaka yang terkenal, selain Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir dan Hang Lekiu.

Makam Hang Kasturi

Lanjut berjalan, dari jauh terlihat semacam menara masjid. Ternyata benar ada sebuah masjid dengan nama Masjid Kampung Kling.

Berdasarkan info wikipedia, Masjid ini dibangun pada tahun 1748 atau bertepatan dengan tahun Tahun 1152 Hijriah dimasa penjajahan Belanda di Melaka. Ketika itu Belanda memberikan kebebasan untuk mendirikan masjid sebagai usaha untuk menarik hati orang orang melayu dan kaum muslimin Malaka waktu itu, setelah di era penjajahan Portugis, warga Muslim dilarang mendirikan Masjid bahkan keseluruhan bangunan masjid yang sudah ada dihancurkan oleh Portugis. Keseluruhan biaya pembangunan masjid ini berasal dari jemaah. Masjid Kampung Keling ini merupakan salah satu masjid tertua di Malaysia, dan berada dibawah pengawasan Kementerian Musium dan Purbakala Malaysia.

Masjid Kampung Kling

Roti bakar + Teh tarik panas

Saya sempat berhenti disebuah kedai yang tidak begitu banyak pengunjungnya. Berharap bisa ngobrol dengan pemilik kedai sambil menikmati cemilan.

Berdasarkan info yang saya dapatkan, ternyata rumah atau tanah dikawasan ini tidak boleh dijual kepada orang lain yang berkewarganegaraan asing. Kalaupun ada warga negara asing ingin membuka bisnis ataupun usaha hanya diperbolehkan untuk kontrak dan itupun dengan berbagai macam syarat.

Ohya, penduduk kawasan ini terbilang cukup ramah.
Sempat beberapa kali saya berpapasan dengan orang melayu, mereka memberikan senyum. Bahkan saat saya ngobrol di kedai makanan pun mereka asik untuk ngobrol. Kalian bisa menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris. Untuk bahasa Indonesia sebenarnya hampir mirip dengan bahasa Melayu, untuk beberapa kosakata mempunyai arti sama.

Selesai menikmati cemilan, saya pun lanjut jalan dan tak lama sampai dititik keramain kota ini.

Stadthuys

Ditempat ini banyak sekali spot foto bagi kalian yang ingin mengabadikan momen. Hanya saja kalian mesti tahu kapan waktu-waktu yang tidak begitu ramai, karena hampir seluruh wisatawan akan berada diarea ini.

Nampang dulu di sekitar Stadthuys

Setelah cukup bernarsis saya lanjut jalan ke arah utara.
Semacam lorong dengan kanan-kiri bangunan yang tidak begitu tinggi berwarna merah. Ini merupakan jalan masuk ke kawasan Melaka Heritage dengan model jalanan berpaving. Ujung jalan ini merupakan perempatan dengan taman pada tengah-tengah jalan.

Kawasan Heritage Melaka

Dititik ini saya mengambil jalan ke kiri, dimana melewati sebuah jembatan.
Dalam rute memang saya akan melewati pinggirian sungai melaka. Pinggir sungai melaka ini tertata rapi dan bersih. Karena memang menjadi icon salah satu objek wisata di Melaka, dengan berderet sebuah kedai ataupun cafe yang menjual makanan maupun minuman.

Kawasan Melaka River

Setelah lelah berjalan dengan kondisi cuaca panas, maka dalam benak yang ada yaitu cari tempat yang teduh sekaligus makan *laper euy… Isenglah masuk di H&M karena pasti ruangnnya ber-AC mayan buat pendinginan. Outlet H&M ini memang dekat dengan penginapan, sekitar 100 meter. Yaa karena mata dan tangan tidak tahan akan godaan, akhirnya dapat satu pakaian dan kaos kaki *mumpung diskon.

Keluar dari outlet ada beberapa kedai yang menjual makanan, saya memilih masuk yang terdapat ayam digantung di bagian kaca depan. Seperti kebiasan pesan Ayam Hainan dan segelas es cendol.

Sekitar pukul 15.00 saya tiba di tempat penginapan lagi dan beristirahat.
Malam ini saya berencana ingin jalan dan makan malam di tepian sungai melaka. Untuk petualangan selanjutnya bisa dibaca pada cerita Malam Hari Di Kota Tua – Melaka Malaysia